ANALISIS
DAN PEMBUATAN SELAI RAMBUTAN DENGAN PENAMBAHAN KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.)
Laporan
Analisis Terpadu II
Oleh
:
AFRINA
NURATIKA HARAHAP
NIS
085033
KEMENTERIAN
PERINDUSTRIAN RI
PUSAT
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN INDUSTRI
SEKOLAH
MENENGAH KEJURUAN ( SMK ) SMAK
PADANG
2012
PEMBUATAN
DAN ANALISIS SELAI RAMBUTAN DENGAN PENAMBAHAN KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.)
OLEH :
AFRINA NURATIKA HARAHAP
NIS:
085033
Laporan Analisis Terpadu II
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Lulus
dari Sekolah Menengah Kejuruan
( SMK ) SMAK Padang
KEMENTERIAN
PERINDUSTRIAN RI
PUSAT
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN INDUSTRI
SEKOLAH
MENENGAH KEJURUAN ( SMK ) SMAK
PADANG
2012
ABSTRAK
Selai buah
adalah produk makanan semi basah yang dapat dioleskan yang dapat dibuat dari
pengolahan buah - buahan, gula dan atau tanpa penambahan bahan pangan lain dan
bahan tambahan yang diizinkan. Selai buah yang penulis buat yaitu yang berasal
dari buah rambutan dan ditambah dengan kelopak bunga rosella untuk memberikan
warna merah ungu pada selai rambutan tersebut. Selai ini telah dilakukan
analisis untuk mengetahui mutunya. Analisis dilakukan di laboratorium SMK-SMAK
Padang pada tanggal 14 Maret – 30 Maret 2012.Uji yang dilakukan antara lain
yaitu uji koliform, uji kapang/khamir,uji kadar vitamin C dan uji organoleptik.
Dari uji yang dilakukan, selai ini mengandung vitamin C 0,03 %, mikroba
koliform negatif, kapang/khamir 3,5 . 10 1 koloni/gram. Hasil uji
organoleptik menunjukkan bahwa selai ini berwarna merah ungu dengan rasa asam
manis dan banyak yang suka.
ABSTRACT
Fruit jam is a immediate-moisuret food products that can be applied that can be made from the processing of fruits, sugar and or without the addition of other food ingredients and additives are allowed.That the author made fruit jam that is derived from the fruit rambutan and coupled with rosella flower petals to give a purple red color on the rambutan jam. This jam has been carried out analyzes to determine their quality. Analyses were conducted in laboratory SMK-SMAK Padang on 14 March to 30 Maret 2012.Tests performed, among others, the coliform test, test molds / yeasts, testing levels of vitamin C and organoleptic tests. Of tests performed, butter contains vitamin C 0.03%, a negative coliform microbes, fungi / yeast 3.5. 101 colonies / gram. Organoleptic test results indicate that the marmalade was red-purple color with sweet and sour taste like much.
Fruit jam is a immediate-moisuret food products that can be applied that can be made from the processing of fruits, sugar and or without the addition of other food ingredients and additives are allowed.That the author made fruit jam that is derived from the fruit rambutan and coupled with rosella flower petals to give a purple red color on the rambutan jam. This jam has been carried out analyzes to determine their quality. Analyses were conducted in laboratory SMK-SMAK Padang on 14 March to 30 Maret 2012.Tests performed, among others, the coliform test, test molds / yeasts, testing levels of vitamin C and organoleptic tests. Of tests performed, butter contains vitamin C 0.03%, a negative coliform microbes, fungi / yeast 3.5. 101 colonies / gram. Organoleptic test results indicate that the marmalade was red-purple color with sweet and sour taste like much.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Rambutan adalah tanaman tropis yang tergolong ke dalam
family Sapindaceae
yang berasal dari daerah kepulauan di Asia
Tenggara. Kata "rambutan" berasal dari bentuk
buahnya yang mempunyai kulit menyerupai rambut.
Rambutan
(Nephelium sp) banyak ditanam sebagai
pohon buah dan merupakan jenis tanaman musiman yang buahnya dapat di makan
dalam keadaan segar. Pada saat musimnya, rambutan sangat mudah diperoleh dan
harganya pun sangat murah sehingga petani rambutan tidak memperoleh pendapatan
yang memadai. Oleh sebab itu, jika dilakukan suatu pengolahan dari buah
rambutan akan dapat meningkatkan nilai jualnya.
Selai
buah adalah produk makanan semi basah yang dapat dioleskan yang dapat dibuat
dari pengolahan buah - buahan, gula dan atau tanpa penambahan bahan pangan lain
dan bahan tambahan yang diizinkan.
Warna
selai buah biasanya mengikuti warna dasar dari buah yang digunakan umumnya
berwarna kuning pucat. Konsumen biasanya menyukai produk makanan yang memiliki
penampilan menarik dan warna mencolok. Namun dalam teknologi pengolahan yang
berkembang saat ini, untuk menarik konsumen banyak dalam produk makanan
ditambahkan bahan pewarna sintesis sehingga dapat membahayakan kesehatan
konsumen. Untuk makanan sebaiknya ditambahkan bahan – bahan tambahan alami yang
memiliki manfaat bagi tubuh. Bahan pewarna alami dapat diperoleh dari tumbuh -
tumbuhan seperti bunga rosella.
Bunga
rosella memiliki warna merah cerah yang menyegarkan selain itu rosella juga
kaya manfaat yang baik untuk kesehatan. Hal itu disebabkan kandungan penting
yang terdapat pada kelopak bunga rosella adalah pigmen antosianin yang
membentuk flavonoid yang berperan sebagai antioksidan.
Khasiat
rosella tidak terlepas dari komposisi kimia dalam kelopak bunga rosella.
Kompsisi kimia dalam kelopak bunga rosella adalah : campuran asam sitrat dan
asam malat 13%, antosianin 2%, vitamin C 14 mg/100 gram dan betakaroten 285
mg/100 gram.
Oleh
sebab itulah penulis tertarik untuk melakukan suatu analisis dan pembuatan
produk dengan judul “ Analisis dan
Pembuatan Selai Rambutan dengan Penambahan Kelopak Bunga Rosela ( Hibiscus sabdariffa L.)”.
1.2
Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulis melakukan penelitian ini,antara lain :
1.
Sebagai
salah satu syarat dalam menyelesaikan mata pelajaran produktif di SMK-SMAK
Padang dalam bentuk Proyek Kecil Mandiri (PKM)
2.
Untuk
memudahkan melaksanakan Proyek kecil mandiri
3.
Untuk
memanfaatkan rambutan dan bunga rosella sehingga dapat mengubah nilai jualnya
4.
Dapat
mengolah buah dan bunga sebagai makanan yang dapat dikonsumsi dengan memiliki
cita rasa yang tinggi
5.
Untuk
mengetahui kelayakan produk “selai rambutan” yang di buat.
1.3 Produk dan Ruang Lingkup Uji
Produk yang akan penulis buat adalah
selai buah yang baik untuk kesehatan yang berbahan dasar dari buah rambutan dan kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.).
Produk selai yang penulis buat akan dianalisis dengan mengambil parameter uji
yaitu : uji organoleptik, uji kadar vitamin C dan uji cemaran mikroba.
1.4 Manfaat Proyek Kecil Menengah
Hasil praktikum ini diharapkan dapat
meningkatkan keterampilan dalam membuat produk baru yang berpeluang bisnis, melatih
bakat untuk berwirausaha, memberi nilai tambah dan penganekaragaman produk
pangan, mengetahui kualitas produk yang dibuat serta memberikan tambahan
informasi bagi penulis, pembaca serta masyarakat terutama petani buah rambutan.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Rambutan
Rambutan
merupakan tanaman buah – buahan tropika basah yang berasal dari Asia Tenggara.
Menurut seorang ahli botani Soviet, Nikolai Ivanovich Vavilov, sentrum utama
asal tanaman rambutan adalah daerah Indo-Malaya, yang meliputi Indo-Cina,
Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Di wilayah ini ditemukan sumber genetik ( germ plasm ) rambutan (Nephellium lappaceum) dan kepulasan (N.mutabile). Para ahli botani dan pakar
pertanian kemudian memastikan bahwa daerah asal tanaman rambutan adalah
Malaysia dan Indonesia ( Rukmana dan Oesman, 2002).
Rambutan (Nephelium sp.) merupakan tanaman buah hortikultural
berupa pohon dengan famili Sapindaceae.
Tanaman buah tropis ini dalam bahasa Inggrisnya disebut Hairy Fruit berasal
dari Indonesia. Hingga saat ini telah menyebar luar di daerah yang beriklim
tropis seperti Filipina dan negara-negara Amerika Latin dan ditemukan pula di
daratan yang mempunyai iklim sub-tropis.
Dari survey yang telah dilakukan terdapat 22 jenis
rambutan baik yang berasal dari galur murni maupun hasil okulasi atau
penggabungan dari dua jenis dengan galur yang berbeda. Ciri-ciri yang
membedakan setiap jenis rambutan dilihat dari sifat buah (dari daging buah,
kandungan air, bentuk, warna kulit, panjang rambut). Dari sejumlah jenis
rambutan diatas hanya beberapa varietas rambutan yang digemari orang dan
dibudidayakan dengan memilih nilai ekonomis relatif tinggi diantaranya:
1.
Rambutan
Rapiah buah tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya tinggi, kulit
berwarna hijau-kuning-merah tidak merata dengan berambut agak jarang,
daging buah manis dan agak kering, kenyal, ngelotok dan daging buahnya tebal,
dengan daya tahan dapat mencapai 6 hari setelah dipetik.
2.
Rambutan
Aceh Lebak bulus pohonnya tinggi dan lebat buahnya dengan hasil rata-rata
160-170 ikat per pohon, kulit buah berwarna merah kuning, halus, rasanya segar
manis-asam banyak air dan ngelotok daya simpan 4 hari setelah dipetik, buah ini
tahan dalam pengangkutan.
3.
Rambutan
Cimacan, kurang lebat buahnya dengan rata-rata hasil 90-170 ikat per pohon,
kulit berwarna merah kekuningan sampai merah tua, rambut kasar dan agak jarang,
rasa manis, sedikit berair tetapi kurang tahan dalam pengangkutan.
4.
Rambutan
Binjai yang merupakan salah satu rambutan yang terbaik di Indonesia
dengan buah cukup besar, dengan kulit berwarna merah darah sampai merah
tua rambut buah agak kasar dan jarang, rasanya manis dengan asam sedikit, hasil
buah tidak selebat aceh lebak bulus tetapi daging buahnya ngelotok.
5.
Rambutan
Sinyonya, jenis rambutan ini lebat buahnya dan banyak disukai terutama orang
Tionghoa, dengan batang yang kuat cocok untuk diokulasi, warna kulit buah merah
tua sampai merah anggur, dengan rambut halus dan rapat,rasa buah manis asam,
banyak berair, lembek dan tidak ngelotok.
2.1.1
Klasifikasi dan Morfologi
Dalam
sistematika (taksonomi) tumbuhan, tanaman rambutan diklasifikasikan sebagai
berikut :
Kingdom
: Plantae ( tumbuh – tumbuhan )
Divisi
: Spermatophyta ( tumbuhan berbiji )
Subdivisi
: Angiospermae ( berbiji tertutup )
Kelas
: Dicotyledonae ( biji berkeping dua )
Ordo
: Sapindales
Family
: Sapindaceae
Genus
: Nephellium
Spesies
: Nephellium lappaceum Linn
Adapun
morfologi dari rambutan sebagai berikut :
Rambutan
merupakan tanaman tahunan (perennial). Secara
alami, pohon rambutan dapat mencapai ketinggian 25 m atau lebih, namun bila
dibudidayakan pada umumnya hanya dapat mencapai ketinggian 5 m – 9 m. Batang
rambutan berkayu keras, tumbuh tegak (kokoh), dan berwarna kecokelat –
cokelatan sampai putih kecokelatan. Daun rambutan berbentuk bulat panjang
dengan ujung tumpul atau meruncing, dan pada umumnya berwarna hijau tua sampai
hijau muda, tergantung varietasnya.
Pada
umumnya, buah rambutan berbentuk bulat, agak lonjong, ataupun lonjong, bahkan
kadang – kadang pipih. Berat per buah antara 33,80 g – 68,15 g. Pada umunya,
daging buah rambutan berwarna putih, memiliki rasa manis berair dan agak berair
sampai manis agak kering, serta kadang-kadang agak harum. Daging buah rambutan
pada umunya mudah dipisahkan dari bijinya (ngelotok),
dengan kulit biji agak melekat pada daging buah. Biji rambutan berbentuk bulat
sampai bulat panjang atau lonjong terkadang agak bengkok pada bagian ujungnya.
Berat biji berkisar anatara 1,0 g – 2,6 g .
2.1.2 Manfaat Rambutan
Tanaman buah rambutan sengaja dibudidayakan untuk
dimanfaatkan buahnya yang mempunyai gizi, zat tepung, sejenis gula yang mudah
terlarut dalam air, zat protein dan asam amino, zat lemak, zat enzim-enzim yang
esensial dan nonesensial, vitamin dan zat mineral makro, mikro yang menyehatkan
keluarga, tetapi ada pula sementara masyarakat yang memanfaatkan sebagai pohon
pelindung dipekarangan, sebagai tanaman hias.
2.1.3
Kandungan kimia rambutan
Sebagai
jenis buah – buahan yang bergizi dan menyehatkan keluarga, rambutan mengandung
zat – zat yang diperlukan tubuh, antara lain : protein, lemak, vitamin, mineral
makro dan mikro. Susunan kandungan kimiawi dari daging rambutan ini sangat
tergantung pada jenis, kesuburan tempat tumbuh, banyaknya sinar matahari yang
di dapat, curah hujan dan lain - lain ( Mahisworo et al.,1991 ).
Tabel
2.1.3 komposisi kimia rambutan per 100 g bahan
|
Komposisi
kimia
|
Jumlah
|
|
Kalori( Kal )
Protein ( g )
Lemak ( g )
Karbohidrat ( g )
Fosfor ( mg )
Besi ( mg )
Vit. A ( SI )
Vit. C ( mg )
Air ( g )
Bagian yang dapat dimakan (Bdd)
|
69
0,9
0,1
18,1
16
0,5
0
58
80,5
40,0 %
|
Sumber
: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, 1989
Di
Indonesia dan Malaysia, buah rambutan sangat digemari sebagai buah segar dan
buah olahan, karena memiliki rasa manis dan menyegarkan, serta mengandung
nutrisi (gizi) yang cukup. Buah rambutan juga dapat diolah menjadi manisan, jus
dan buah dalam kaleng (canning ).
Manisan buah rambutan biasanya digunakan sebagai penambah (variasi) rasa pada
berbagai jenis kue kering (biskuit), roti, es krim, dan lain-lain. Dalam skala
industry makanan, buah rambutan diolah menjadi buah dalam sirup (cocktail).
2.2 Rosella Merah
Rosela
tergolong tanaman semusim. Hibiscus
sabdariffa vatietas ultissima wester biasanya dimanfaatkan untuk di ambil
serat batangnya. Rosella tipe ini tumbuh tegak, tidak banyak bercabang, dengan
tinggi mencapai 4,8 m. batangnya berwarna hijau atau merah. Daunnya berwarna
hijau kadang – kadang bertulang daun merah. Bunga berwarna kuning dengan
kelopak berwarna hijau atau merah, tidak berduri dan tidak bisa di makan (
Mardiah,2009 cit Indiati (2010).
Daun
rosella berbentuk bulat telur, pertulangan menjari dan letaknya berseling,
terbagi kedalam 3 -7 cuping tergantung kultivar dan aksesi, dan pinggiran daun
bergerigi. Rosella memilki daun yang panjangnya 6 – 15 cm dan lebarnya 5 – 8
cm. Sementara tangkai daunnya berbentuk bulat ( Mardiah,2009 cit Indiati (2010).
Bunga rosella yang keluar dari ketiak daun
merupakan bunga tunggal, artinya pada setiap tangkai hanya terdapat satu bunga.
Bunga ini mempunya 8 – 11 helai kelopak yang berbulu, panjang 1 cm, pangkal
saling berlekatan dan berwarna merah. Kelopak bunga ini sering di anggap
sebagai bunga oleh masyarakat. Bagian inilah yang sering dimanfaatkan sebagai
bahan makanan dan minuman. Mahkota bunga berbentuk corong, terdiri dari 5
helaian, panjangnya 3 – 5 cm. tangkai sari yang merupakan tempat melekatnya
kumpulan benang sari berukuran pendek dan tebal,panjangnya sekitar 5 mm dan
lebar sekitar 5 mm. putiknya berbentuk
tabung, berwarna kuning atau merah (Maryani, 2005 cit Syahri, 2009).
Tanaman
rosella dapat tumbuh di daerah tropis dan sub tropis yang hangat (25- 300C)
namun cukup lembab ( 70 % ). Rosela cocok di tanam pada ketinggian 0 – 1000 m
diatas permukaan laut, dengan curah hujan rendah, rosella masih dapat tumbuh,
tetapi tidak sebaik didaerah bercurah hujan tinggi. Panjang periode vegetatif
dapat diatur sejak masa penaburan benih. Agar tanaman ini dapat tumbuh maksimal
dibutuhkan air dan sinar matahari penuh selama 12 jam untuk perbungaan dan
perbuahan ( Widyanto,2008 cit
Syahri,2009).
Rosella
dapat di panen setiap satu atau dua minggu untuk satu kali masa panen. Setelah
masa panen pertama, dua minggu kemudian akan tumbuh kuntum baru, kuntum
tersebut dapat di panen selang waktu 4 - 4,5 bulan. Rosella yang siap panen
ditandai dengan mahkota bunga yang telah gugur dan buahnya membuka (Widyanto,2008
cit Syahri,2009).
Pemetikan
rosella lebih mudah dilakukan pagi hari dari pada sore hari, karena kadar air
tanaman masih tinggi, sehingga tangkai buah tidak liat. Pemanenan rosella
umunya dilakukan secara manual karena saat munculnya bunga dan tingkat kematangan
tidak sama. Kelopak sulit dipetik dengan tangan tanpa bantuan alat (Mardiah,2009
cit Indiati (2010).
2.2.1 Klasifikasi dan Morfologi
Dalam
sistematika tumbuhan, tanaman bunga rosella diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae
Ordo
: Malvaves
Family
: Malvaceae
Genus
: Hibiscus
Spesies
: H. sabdariffa
Morfologi
tanaman bunga rosella sebagai berikut :
Bunga
yang berasal dari Afrika ini termasuk dalam keluarga malvaceae. Ini merupakan tanaman yang tumbuh tegak, bercabang
banyak, bersemak– semak, dan mempunyai siklus hidup tahunan. Batangnya berwarna
kemerah-merahan dan tingginya mencapai 3,5 m.
Warna
daunnya bervariasi; ada yang hijau gelap, bahkan ada juga yang merah dengan
pinggiran bergerigi. Bunganya berwarna merah dengan ujung berwarna agak gelap,
yang dilengkapi dengan benang sari dan putik. Bentuk bunganya terkesan
kuncupdan sedikit mekar di ujung kelopak bunga.
Bijinya
terdapat dalam cangkang, yang dilindungi semacam kelopak lembut berwarna merah,
yang jika dikeringkan, bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat teh rosella.
2.2.2 Kegunaan dan Khasiat Bunga
Rosella Merah
Bagian
rosella yang dapat di konsumsi ialah kelopak atau buahnya. Caranya ialah
dikeringkan dan diseduh sebagai teh, digunakan dalam campuran jus, serta
dipakai dalam campuran kue sebagai pewarna dan pengharum. Daun rosella yang
asam bisa dipakai sebagai pengasam pada makanan, seperti sup tomyam dan sup
ikan.
Di
Afrika, rosella dijadikan sebagai selai atau jeli. Ini diperoleh dari serat
yang terkandung dalam kelopak rosella. Sementara itu, di Jamaica, bunga ini di
buah salad buah yang di makan mentah. Ada kalanya juga dimakan dengan kacang
tumbuk atau direbus sebagai pengisi kue sesudah di masak dengan gula.
Di
Mesir, rosella di minum keadaan dingin pada musim panas dan di minum dalam
kondisi panas saat musim dingin. Di Sudan, bunga ini menjadi minuman keseharian
dengan campuran garam, merica, dan tetes tebu. Selain itu, bubuk biji rosella
juga dapat dijadikan sebagai campuran minuman kopi.
Khasiat bunga rosella
Zat
– zat tertentu di dalam rosella dipercaya mampu meremajakan sel tubuh, serta
melindungi tubuh dari infeksi kuman dan virus. Vitamin C dalam rosella ini
dipercaya mampu menangkal radikal bebas penyebab kanker. Bunga rosella juga
kaya serat yang bagus untuk kesehatan saluran pencernaan. Kelopak rosella juga
mengandung antioksidan yang dinamakan flavonoid. Flovonoid ini berfungsi mengurangi
LDL atau kolesterol jahat (Wahid,2011)
2.2.3 Kandungan Kimia Rosella
Kandungan
penting yang terdapat pada kelopak bunga rosella adalah pigmen antosianin yang
membentuk flavonoid yang berperan sebagai antioksidan. Zat gizi lain yang tidak
kalah penting terkandung dalam rosella adalah kalsium, niasin, riboflavin dan
besi yang cukup tinggi. Kandungan zat besi pada kelopak segar dapat mencapai
8,98 mg/100g, sedangkan pada daun rosella sebesar 5,4 mg/100g. Selain itu,
kelopak rosella mengandung 1,12% protein, 12 % serat kasar, 21,89mg/100g
sodium, vitamin C dan vitamin A (Mardiah,2009 cit Indiati (2010). Menurut ( Winarti,2006 ) komposisi kimia dalam
kelopak bunga rosella adalah : campuran asam sitrat dan asam malat 13%,
antosianin 2%, vitamin C 14mg/100 g dan betakaroten 285 mg/100 gram. (Wahid,2011)
menambahkan dalam setiap 100 g kelopak rosella, terdapat 44 kalori, 86,2% H2O,
1,6 g protein, 0,1 g lemak, 11,1 g karbohidrat, 2,5 g serat, 1,0 g abu, 160 mg
Ca, 60 mg P, 3,8 mg Fe, 285 mg setara betakaroten, 0,04 mg thiamine, 0,6 mg
riboflavin, 0,5 mg niacin, 14 mg asam askorbat, 7,6 % moisture, 24,0 % protein,
22,3 % lemak, 15,3 % serat, 23,8 % N-free extract, 7,0% abu, 0,3% Ca, 0,6
% P, dan 0,4% S.
2.3 Selai
Selai
didefinisikan sebagai suatu bahan pangan setengah padat yang di buat tidak
kurang dari 45 bagian zat penyusun sari buah dengan 55 bagian berat gula.
Campuran ini dikentalkan sampai mencapai kadar zat padat terlarut tidak kurang
dari 65 %. Zat warna dan cita rasa dapat ditambahkan. Pectin dan asam dapat
ditambahkan untuk melengkapi kekurangan yang ada di dalam buah itu sendiri
(Desrosier,1988 cit Indiati,2010).
Selai
buah adalah produk makanan semi basah yang dapat dioleskan yang dapat dibuat
dari pengolahan buah-buahan, gula dengan atau tanpa penambahan bahan pangan
lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan (SNI 3746:2008)
Selai
termasuk ke dalam pangan semi basah. Menurut Purnomo (1995) cit Yuliani (2011) pangan semi basah
atau Intermediate Moisture Food sebagai bahan pangan yang mempunyai kadar air
sekitar 15 – 40 % dan memiliki aktivitas air 0,65 – 0,90. Pada tingkat aw
tersebut, pertumbuhan bakteri dapat tumbuh. Pangan semi basah termasuk pangan
yang stabil terhadap pertumbuhan mikroba, tahan simpan dan tanpa memerlukan
proses pengawetan yang lain seperti pendinginan, sterilisasi ataupun
pengeringan. Buckle et al (1985) cit Yuliani (2011) menambahkan, jenis
mikroorganisme khamir membutuhkan nilai aw lebih rendah (0,87 –
0,91) dan kapang lebih rendah lagi (0,80 – 0,87).
2.3.1 Pembuatan Selai
Pengolahan
selai meliputi tiga tahap utama yaitu persiapan bahan, pemasakan dan pengisian.
Persiapan bahan dimulai dengan pemilihan bahan baku selai, kemudian pencucian (
Herdiani,2003 cit Lubis,2007).
Selama
pemasakan harus dilakukan pengadukan agar campuran bahan selai, yakni buah,
pektin, gula dan asam menjadi homogen. Pengadukan bertujuan untuk memperoleh
struktur gel. Pengadukan juga tidak boleh terlalu cepat karena dapat
menimbulkan gelembung – gelembung yang dapat merusak tekstur dan penampakan
akhir ( Fachruddin,1997 cit
Maryam,2010).
Menurut
Astawan et al. (1991) cit Rahmi (2002), lama pemasakan perlu
diperhatikan agar dapat memberikan kekentalan selai yang baik. Pemasakan yang
terlalu lama akan menghasilkan selai yang terlalu keras, sedangkan pemasakan
yang terlalu singkat akan menghasilkan selai yang terlalu encer.
Untuk
menentukan titik akhir pemasakan dapat dilakukan dengan spoon test. Menurut
Muchtadi et al.(1979) cit Maryam (2010), spoon test dilakukan
dengan cara mengambil adonan dengan ujung sendok dimiringkan, jika tidak segera
jatuh berarti pembuatan selai sudah selesai.
2.4 Vitamin C
Vitamin
C adalah Kristal putih yang mudah larut dalam air. Dalam keadaan kering vitamin
C cukup stabil, tetapi dalam keadaan larut, vitamin C mudah rusak karena
bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas. Vitamin C tidak
stabil dalam larutan alkali, tetapi cukup stabil dalam larutan asam. Vitamin C
adalah vitamin yang paling stabil (Almatsier,202)
Asam
askorbat (vitamin C) adalah suatu turunan heksosa dan diklasifikasikan sebagai
karbohidrat yang erat berkaitan dengan monosakarida. Vitamin C dapat disintesis
dari D-glukosa dan D- galaktosa dalam tumbuh-tumbuhan dan sebagian besar hewan.
Vitamin C terdapat dalam dua bentuk di alam, yaitu L- asam askorbat( bentuk
tereduksi) dan L- asam dehidro askorbat ( bentuk teroksidasi )
(Almatsier,2002).
Pangan
dapat kehilangan vitamin C sejak dipanen hingga sampai di meja makan. Keadaan
yang menyebabkan hilangnya vitamin C adalah : lama disimpan pada suhu panas,
membiarkan terbuka pada udara (oksidasi), pencucian,perendaman dalam air,
memasak dengan suhu tinggi dengan waktu yang lama, memasak dalam panci besi
atau tembaga (Almatsier,2002).
2.4.1 Fungsi Vitamin C
Vitamin
C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh, sebagai koenzim atau kofaktor. Asam
askorbat adalah bahan yang kuat kemampuan tereduksinya dan bertindak sebagai
antioksidan dalam reaksi-reaksi hidroksilasi. Selain itu fungsi vitamin C
adalah sebagai berikut :
1.
Sintesis kolagen
2.
Sintesis karnitin, noradrenalin,
serotonin,dll
3.
Absorpsidan metabolism besi
4.
Absorpsi kalsium
5.
Mencegah infeksi
6.
Mencegah kanker dan penyakit jantung
Vitamin C pada umumnya hanya
terdapat di dalam pangan nabati, yaitu sayur dan buah terutama yang asam, seperti
jeruk, nenas, rambutan, pepaya, gandaria dan tomat.
2.4.2
Akibat Kekurangan dan Kelebihan Vitamin C
Akibat kekurangan vitamin C
biasanya disebut skorbut. Tanda - tanda
awal antara lain lelah, lemah, nafas pendek, kejang otot, tulang, otot dan
persendian sakit serta kurang nafsu makan, kulit menjadi kering, kasar dan
gatal, warna merah kebiruan dibawah kulit, pendarahan gusi, kedudukan gigi
menjadi longgar,mulut dan mata kering dan rambut rontok.
Kelebihan
vitamin C berasal dari makanan tidak menimbulkan gejala. Tetapi konsumsi
vitamin C berupa suplemen secara berlebihan tiap hari dapat menimbulkan
hiperoksaluria dan risiko lebih tinggi terhadap batu ginjal. Dengan konsumsi
5-10 gram vitamin C baru sedikit asam askorbat dikeluarkan melalui urin
(Almatsier,2002) .
2.5 Cemaran Mikroba
Volle
dan Wheeler (1993) menjelaskan bahwa bakteri, virus, kamir dan jamur, protozoa,
beberapa ganggang dalam bentuk yang kecil disebut mikroorganisme.
Mikroorganisme yang penting dalam mikrobiologi pangan adalah yang tergolong
dalam bakteri, kapang dan khamir (Fardiaz, 1992).
2.5.1 Kapang / Khamir
Khamir
adalah fungi mikroskopik, namun tidak seperti tipe fungi lain, khamir
terdapat sebagai sel bebas yang
sederhana. Biasanya sel-sel ini berbentuk bundar atau lonjong namun mungkin
berbentuk lain. Sel khamir berbeda dengan bakteri dalam hal bahwa khamir adalah
sel eukariota; biasanya lebih besar daripada rata- rata bakteri, dan berkembang
biak dengan cara mekanisme yang berbeda. Jadi, khamir adalah sel yang lebih
sederhana daripada jamur, tetapi struktur selnya tampaknya lebih kompleks
daripada struktur bakteri. Semua divisi fungi mengandung khamir.Khamir terdapat
dalam air, tanah dan debu serta umum terdapat pada banyak buah – buahan dan
sayuran (Wheeler et al.,1993) .
Khamir termasuk fungi,tetapi dibedakan dari kapang
karena bentuknya yang terutama uniseluler. Reproduksi vegetatif pada khamir terutama dengan cara pertunasan.
Khamir juga berbeda dengan bakteri karena ukurannya lebih besar dan morfologi
yang berbeda. Khamir pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan sifat – sifat
fisiologinya, dan tidak atas perbedaan morfologinya seperti kapang
(Fardiaz,1992).
Kapang adalah mikroorganisme yang termasuk dalam
anggota Kingdom Fungi yang membentuk hifa. Kapang bukan merupakan kelompok
taksonomi yang resmi, sehingga anggota-anggota dari kapang tersebar ke dalam
filum Glomeromycota, Ascomycota, dan Basidiomycota.
Kapang (Inggris: mold) merupakan anggota regnum Fungi ("Kerajaan" Jamur) yang biasanya tumbuh pada permukaan makanan yang sudah basi atau terlalu lama tidak diolah. Sebagian besar kapang merupakan anggota dari kelas Ascomycetes.
Kapang bereproduksi dengan menggunakan spora. Spora kapang terdiri dari dua jenis, yaitu spora seksual dan spora aseksual. Spora aseksual dihasilkan lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan spora seksual. Spora aseksual memiliki ukuran yang kecil (diameter 1-10 μm) dan ringan, sehingga penyebarannya umumnya secara pasif menggunakan aliran udara. Apabila spora tersebut terhirup oleh manusia dalam jumlah tertentu akan mengakibatkan gangguan kesehatan.
Kapang (Inggris: mold) merupakan anggota regnum Fungi ("Kerajaan" Jamur) yang biasanya tumbuh pada permukaan makanan yang sudah basi atau terlalu lama tidak diolah. Sebagian besar kapang merupakan anggota dari kelas Ascomycetes.
Kapang bereproduksi dengan menggunakan spora. Spora kapang terdiri dari dua jenis, yaitu spora seksual dan spora aseksual. Spora aseksual dihasilkan lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan spora seksual. Spora aseksual memiliki ukuran yang kecil (diameter 1-10 μm) dan ringan, sehingga penyebarannya umumnya secara pasif menggunakan aliran udara. Apabila spora tersebut terhirup oleh manusia dalam jumlah tertentu akan mengakibatkan gangguan kesehatan.
2.5.2 Bakteri Coliform
Koliform
merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indikator adanya polusi
kotoran dan kodisi sanitasi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu dan
produk – produk susu. Adanya bakteri koliform
di dalam makanan atau minuman menunjukkan kemungkinan adanya mikroorganisma yan
bersifat enteropatogenik dan atau toksigenik yang berbahaya bagi kesehatan (
Fardiaz,1989).
Bakteri
koliform dibedakan menjadi 2 :
1.
Koliform fekal
Misalnya
: Escherichia coli
2.
Koliform nonfekal
Misalnya
: Enterobacter aerogenes
Ekoli
merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan maupun manusia sedangkan E.aorogenes biasanya ditemukan pada
hewan atau tanaman – tanaman yang telah mati.
Untuk mengetahui jumlah koliform
digunakan metoda MPN dengan cara fermentasi tabung ganda. Metoda ini lebih baik
dibandingkanmetoda hitung cawan karena lebih sensitive dan dapat mendeteksi
koliform dalam jumlah yang sangat rendah dalam contoh. Metoda lain yang dapat
digunakan untuk mendeteksi dan menghitung koliform adalah metoda “ Milipore
Membran Filter ( MF )” yang dapat mendeteksi dan menghitung jumlah koliform
dalam jumlah kecil.
Uji kualitatif koliform secara
lengkap terdiri dari 3 cara :
1.
Uji Penduga
Uji penduga merupakan
uji kualitatif koliform menggunakan metoda MPN. Uji kualitatif koliform tak
harus selalu dilakukan secara lengkap, tergantung dari berbagai faktor misalnya
: waktu, mutu contoh yang di uji , biaya, tujuan analisis, dan faktor – faktor
lainnya.
2.
Uji penguat
Untuk uji penguat ada
dua cara. Uji penguat 1 dan uji penguat 2 sama – sama diinkubasi pada suhu 360C
selama 1 sampai 2 hari. Pada uji penguat
1 kita amati ada tidaknya gas CO2 pada ampul. Apabila masih ada
gelembung udara dalam ampul makin kuat dugaan kita sampel mengandung koliform.
Karena zat warna brilian green berfungsi untuk menekan pertumbuhan bakteri gram
positif sehingga yang diharapkan hidup adalah bakteri gram negative dan salah
satu bakteri gram negative adalah E.coli.
Pada uji penguat 2
diamati koloni yang terbentuk pada endo agar. Apabila terbentuk koloni berwarna
kilap logam maka positif ada E.coli. Pembentukan
koloni kilap logam ini di ikuti dengan semakin pekatnya warna media karena
pembentukan asam dari E.coli.
3.
Uji pelengkap
Pada uji pelengkap
kita melakukan pewarnaan gram. Preparat di buat dari koloni pada endo agar.
Apabila di bawah mikroskop kita mendaptkan hasil hasil gram negatif dan sel
berbentuk basil pendek maka positif sampel kita mengandung E.coli. apabila positif E.coli maka kita lanjutkan dengan uji
biokimia.
PELAKSANAAN PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum
Analisis Terpadu II ini telah dilaksanakan pada tanggal 14 Maret sampai dengan
14 April 2012 di laboratorium Sekolah Menengah Kejuruan SMAK Padang.
3.2 Teknik Sampling ( Bahan Baku )
Rambutan
dibeli di pasar Bandar buat Padang dengan metoda pengambilan rambutan secara
acak. Dimana setumpuk rambutan yang dijual dipilih yang bentuknya masih bagus
dan segar lalu ditimbang dan dimasukkan
ke dalam kantong plastik. Bunga rosella diperoleh dari tanaman rosella yang ada
dihalaman rumah.
3.3 Teknik Sampling ( Analisis )
Buka
kemasan selai buah dan ambil contoh selai buah sesuai kebutuhan analisis secara
hati-hati dengan menggunakan sendok yang bersih dan kering kemudian tempatkan
dalam botol/wadah contoh yang bersih dan
kering. Dilakukan analisis pada contoh yang pertama adalah uji mikrobiologi,
kemudian dilanjutkan dengan pengambilan contoh untuk uji organoleptik dan
analisis kimia.
3.4 Pembuatan Produk
Bahan
:
Rambutan,
bunga rosella, gula,air
Alat
:
Blender,
pisau, kompor, wajan, spatula / sendok penggorengan
Cara
kerja :
Daging
rambutan dan kelopak bunga rosella yang sudah dipisahkan bijinya dicuci hingga
bersih. 1 kg daging rambutan dicampur dengan 100 gram kelopak bunga rosela
masukkan kedalam blender kemudian tambahkan 50ml air. Campuran diblender hingga
diperoleh bubur, setelah itu bubur dipanaskan dan pada suhu 900C
ditambahkan gula sebanyak 250gram. Pemasakan dilanjutnyakan sampai terbentuk
selai. Selama pemasakan dilakukan pengadukan terus-menerus sambil dilakukan
“spoon test”, dengan cara : ambil sedikit adonan dengan ujung sendok, dibiarkan
dingin sebentar, kemudian sendok dimiringkan, jika tidak segera jatuh berarti
pemasakan dihentikan.
3.5 Parameter dan Metoda Uji
Parameter
dan metoda yang digunakan dalam praktikum ini, antara lain:
1.
Uji organoleptik
2.
Uji
kadar vitamin C dengan metoda iodimetri
3.
Pemeriksaan
cemaran mikroba :
·
Bakteri
coliform dengan metoda MPN (Most Probable Number)
·
Kapang/khamir
dengan metoda TPC (Total Plate Count)
3.6
Alat dan bahan
3.6.1
Alat - alat yang digunakan :
A.
Alat gelas:
·
Ampul
·
Batang
pengaduk
·
Buret
50mL
·
Cawan
petri
·
Corong
·
Erlenmeyer
250mL
·
Gelas
piala 250mL dan 1000mL
·
Gelas
ukur 50mL
·
Jarum
ose
·
Kaca
objek
·
Labu
ukur 100mL
·
Lampu
spritus
·
Pipet
takar 1mL dan 10mL
·
Pipet
gondok 10mL
·
Pipet
tetes
·
Tabung
reaksi
B.
Alat
non gelas
·
Autoklaf
·
Botol
timbang
·
Botol
semprot
·
Colony
counter
·
Incubator
·
Klem
dan standar
·
Kompor
·
mikroskop
·
Neraca
analitik
·
Neraca
kasar
·
Penangas
·
Pump
pipet
·
Oven
·
Rak
tabung reaksi
3.6.2
Bahan-bahan yang digunakan:
A. Bahan
kimia yang digunakan:
·
Aquades
·
Alkohol
70 %
·
Brilliant
Green Lactosa Broth (BGLB)
·
Amilum
1%
·
Lactose
broth (LB)
·
Larutan
pengencer BPW
·
I2
0,01 N
·
Na2S2O3
0,01 N
·
K2Cr2O7
0,01 N
·
HCl
4N
·
Potato
Dextrosa Agar (PDA)
·
Spritus
·
Kertas
saring
·
Kapas
·
Tissue
/ kertas serap
·
Kertas
·
Karet
3.7 Prosedur Kerja.
3.7.1 Uji kadar vitamin C
1.
Ditimbang
sampel sebanyak 10,0000 gr dengan teliti dipindahkan ke dalam labu ukur 100mL
lalu paskan dengan aquades hingga tanda tera.
2.
Disaring
sampel yang diencerkan dengan kertas saring.
3.
Dipipet
filtratnya sebanyak 10mL dengan pipet gondok masukkan kedalam erlenmeyer 250mL.
4.
Ditambahkan
1ml amilum 1% dan 20ml aquades bila perlu.
5.
Dititar
dengan I2 0,01 N sampai
terbentuk warna biru.
6.
Dihitung
konsentrasi vitamin C dengan rumus :
% vit C =
x 100%
1mL I2 0,01N = 0,88 mg Vit C
BE Vit C = 88,08
3.7.2 Uji bakteri coliform
A. Pengenceran sampel
1.
Diisi
3 tabung reaksi dengan larutan pengencer (BPW) sebanyak 9ml,dibuat pengenceran
10-1, 10-2 dan 10-3.
2.
Pada
pengenceran 10-1 masukkan sampel sebanyak 1 g secara aseptic,
hamogenkan. Dari pengenceran 10-1 dipipet 1ml dimasukkan kedalam
tabung reaksi yang telah berisi larutan pengencer, lalu homogenkan.
3.
Dari
pengenceran 10-2 dipipet 1ml lalu dimasukkan kedalam tabung reaksi
yang berisi larutan pengencer, lalu homogenkan. (setiap perlakuan dilakukan
secara aseptik).
B.Uji Dugaan
a)
Sterilkan
area kerja dan semua peralatan yang digunakan;
b)
Inokulasi
masing-masing 1ml larutan sampel yang telah diencerkan sebelumnya ( 10-1,
10-2 dan 10-3) kedalam 3 tabung reaksi yang telah berisi
ampul dan 5ml media LB;
c)
Beri
label masing-masing tabung lalu dinkubasi dalam incubator pada suhu 350C
selama 2 x 24 jam;
d)
Setelah 2x24 jam lakukan pengamatan, apabila
ada perubahan warna pada media dan ada gas pada ampul, maka tabung tersebut
dinyatakan “positif”;
e)
Catat
tabung yang positif lalu lanjutkan dengan uji penguat pada tabung yang positif
tersebut.
C.Uji
Penguat
a)
Tabung
reaksi yang berisi media LB yang positif dari uji dugaan, masing-masing diambil
sebanyak satu sengkelit kedalam tabung reaksi yang telah berisi 5ml media BGLB
2% dan ampul;
b)
Masukkan
tabung-tabung tersebut kedalam incubator pada suhu 350C selama 2x24 jam;
c)
Catat
semua tabung BGLB yang positif ( dalam ampul terdapat gas), tentukan nilai APM bedasarkan
jumlah tabung BGLB yang positif;
d)
Laporkan
sebagai APM bakteri coliform per
gram.
3.7.3 Uji
kapang/khamir
a)
Sterilkan
area kerja serta alat dan bahan yang digunakan;
b)
Pipet
1ml dari masing-masing pengenceran sampel 10-1 -10-2 ke
dalam cawan petri steril secara duplo. Tuangkan PDA yang telah dicairkan ke
dalam cawan petri dan goyangkan cawan petri sedemikian rupa sehingga campuran
tesebut merata;
c)
Setelah
pembenihan membeku, inkubasikan pada suhu 250C selama 5 hari (tanpa
dibalik);
d)
Hitung
koloni kapang/khamir (dapat dilakukan mulai hari ke tiga sampai ke lima)
e)
Laporkan
atau catat hasil sebagai jumlah kapang/khamir dalam satuan koloni/g contoh.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil penetapan kadar vitamin C
Dari praktikum yang dilakukan untuk
penetapan kadar vitamin C, didapatkanlah kadar vitamin C dalam selai rambutan
dengan penambahan kelopak bunga rosella sebesar 0,03%. Hasil 0,03% diperoleh
berdasarkan perlakuan penimbangan sampel hanya sekali tetapi sebaiknya
perlakuan dilakukan secra duplo. Dalam 100 gram selai ini terkandung 30 mg
vitamin C yang baik sebagai tambahan asupan vitamin ke dalam tubuh.
4.2
Hasil uji kapang/khamir
Dari hasil uji kapang/khamir didapatkan
hasil seperti pada tabel berikut :
Tabel 4.2 : Hasil uji cemaran kapang/khamir
pada sampel
|
No
|
Parameter Uji
|
Berat sampel ( g )
|
Jumlah koloni pada faktor pengenceran
|
Hasil
|
Standar SNI
|
|
|
10-1
|
10-2
|
|||||
|
1
|
Kapang/
khamir
|
1,00
|
5
|
1
|
3,5
x 10 1
|
Maks.
5 x 10 1
|
|
2
|
2
|
|||||
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa
cemaran mikroba kapang/khamir pada sampel masih di bawah angka standar SNI.
Dari hasil ini menandakan bahwa pengerjaan dalam pembuatan produk dilakukan
dengan bersih. Maka sampel ini layak untuk dikonsumsi.
4.3
Hasil uji bakteri coliform
Dari hasil uji cemaran mikroba coliform
didapatkan hasil seperti pada tabel berikut :
Tabel 4.3 : Hasil uji cemaran coliform
pada sampel
|
Pengenceran
|
Jumlah tabung positif
|
Hasil
|
standar
|
|
|
Uji dugaan
|
Uji penguat
|
|||
|
10-1
|
0
|
0
|
<
3 APM/g
|
<
3 APM/g
|
|
10-2
|
1
|
0
|
||
|
10-3
|
0
|
0
|
||
Dari tabel 4.3 dapat di lihat bahwa
cemaran bakteri koliform pada sampel adalah sesuai dengan ketentuan standar
SNI. Menurut (Schlegel, 1994) dalam air minum tidak boleh ada E.coli. Sesuai tabel 4.3 produk ini
tidak tercemar E.coli Untuk itu
produk ini layak dikonsumsi.
4.4 Studi
Kelayakan
Untuk
mengetahui layaknya produk ini dikonsumsi dan dipasarkan maka dilakukan uji
seperti :
4.4.1 Hasil kuisioner uji organoleptik
Tabel
4.5.1 : Hasil uji organoleptik pada sampel selai rambutan
|
Indikator
|
Parameter
|
Jumlah ( % )
|
Kesimpulan
|
|
Penilaian
|
Sangat
suka
|
13,3
|
Suka
|
|
suka
|
86,7
|
||
|
Agak
suka
|
0
|
||
|
Tidak
suka
|
0
|
||
|
Warna
|
Merah
|
10
|
Merah
keunguan
|
|
Merah
keunguan
|
80
|
||
|
Ungu
|
10
|
||
|
Tekstur
|
Halus
|
43,3
|
Beserat
|
|
Berserat
|
56,7
|
||
|
Kasar
|
0
|
||
|
Rasa
|
Asam
|
6,7
|
Asam
manis
|
|
Asam
manis
|
90
|
||
|
Manis
|
3,3
|
||
|
Aroma
|
Manis
|
53,3
|
Manis
|
|
Asam
|
46,7
|
Hasil uji organoleptik dari selai
rambutan dengan penambahan kelopak bunga rosella yang di buat bahwa, dari 30
orang panelis tidak terlatih, 86,7 % ( 26 orang ) menyatakan suka terhadap
produk selai rambutan dengan rosella dan 13,3 % panelis sangat menyukai produk
ini. Dari 30 orang panelis menyukai produk ini dengan rasa asam manis. Hal ini
berarti selai rambutan dengan penambahan kelopak bunga rosella memiliki prospek
cukup baik untuk dipasarkan.
4.4.2 Bayangan Pemasaran
Produk
yang di buat akan dipasarkan di minimarket, toko roti dan swalayan. Produk ini
akan dipasarkan Rp.3.500 per 100 gram. Dari penjualan dengan harga Rp.3.500
didapatkan keuntungan Rp.310.000,00 atau sebanyak 21,58% untuk produksi 50 Kg.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
KESIMPULAN
Dari
percobaan yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa didalam selai rambutan
dengan penambahan kelopak bunga rosella didapatkan :
1.
Cemaran
mikroba :
¾ Kapang /khamir sebanyak 3,5 x 10 1
¾ Bakteri koliform dalam produk negatif
2.
Kadar
Vitamin C dalam selai sebanyak 0,03%.
3.
Uji
organoleptik dari 30 orang panelis 86,7 % menyatakan suka pada produk ini.
Dari
hasil diatas dapat dinyatakan bahwa produk ini layak untuk dikonsumsi dan
dipasarkan.
5.2
SARAN
Dari
praktikum yang dilakukan penulis menyarankan kepada masyarakat untuk
mengkonsumsi selai ini karena dapat memberikan manfaat yang cukup banyak. Untuk
masyarakat sebaiknya mau mecoba membuat selai rambutan ini sehingga pada saat tidak musim rambutan kita masih dapat
menikmati rambutan. Agar mutu selai ini lebih baik lagi penulis berharap
dilakukan analisis lebih lanjut lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar